5 Wong Ndeso yang Sukses Bisnis Online, Apa Rahasianya?

Kira-kira, apa yang Anda pikirkan pertama kali saat mendengar kata wong ndeso? Serba tradisional, terbelakang, dan jauh dari peradaban? Apakah mereka bisa sukses bisnis online?

Kata wong ndeso berasal dari Bahasa Jawa yang berarti orang desa. Namun, secara pragmatis kata wong ndeso tidak lagi dimaknai sebagai orang-orang yang lahir atau tinggal di sebuah desa.

Istilah “wong ndeso” lebih dimaknai sebagai orang-orang tradisional dengan pengetahuan terbelakang.  Sama halnya ketika seseorang menyebut “kurang gaul” atau “kampungan”

Tidak adil sekali ya jika anggapan tak berdasar seperti itu masih dipertahankan?

Seolah-olah, tidak ada satu orang desa pun yang berhasil sukses dan menguasai ilmu pengetahuan.

Memang, selama ini kita lebih banyak mengenal orang-orang sukses yang berasal dari daerah perkotaan. Tapi, bukan berarti orang desa tak berpengetahuan.

Lima kisah orang desa ini membuktikannya.

Meski lahir dan tinggal di desa, mereka mampu bangkit mengejar kesuksesan.

Tak main-main, bidang kesuksesan yang mereka raih pun berkaitan dengan internet dan teknologi digital.

Nah, siapa bilang orang desa gaptek dan tak bisa main internetan?

Makanya, jangan main judge seperti itu sebelum membaca 5 wong ndeso yang sukses bisnis online berikut ini.

1. Ahmad Zaky, CEO Bukalapak

Siapa yang tidak tahu Bukalapak? Salah satu marketplace terbesar di Indonesia yang iklannya sering bermunculan di TV. Sekitar 1,3 juta pelaku usaha telah bergabung menjadi mitra bisnis Bukalapak dan menghasilkan nilai transaksi hingga 20 milyar per hari.

Namun, siapa sangka dibalik kesuksesan Bukalapak itu ternyata dimotori oleh seorang pemuda dari desa.

Dialah Ahmad Zaky, CEO Bukalapak yang lahir di sebuah desa kecil bernama Dukuh Manggis, Desa Jati, Kecamatan Masaran, Sragen.

Semasa kecilnya, Zaky sempat menjalani kehidupan sehari-hari tanpa listrik.

Sebab, pada masa itu PLN belum masuk ke kampung halaman Zaky.

Zaky menghabiskan masa SD dan SMP-nya di Sragen, lalu merantau ke Solo ketika SMA. Sejak SMA itulah Zaky bertekad menjadi seorang entrepreneur. Dia tak ingin sekadar menjadi karyawan yang mengandalkan upah kepada orang lain.

Akhirnya, Zaky merintis usaha pertamanya saat berkuliah di jurusan Teknik Informatika, ITB, salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

Usaha pertama yang dirintis Zaky yaitu berjualan mie ayam.

Namun, warung mie ayam Zaky hanya dibuka beberapa bulan saja. Usaha tersebut terpaksa ditutup karena untungnya yang tak seberapa.

Tak lama kemudian, Zaky membuka usaha software warehouse. Sejak kecil, Zaky memang hobi otak-atik komputer dan tertarik di bidang IT.

Namun, lagi-lagi usaha yang dibuka Zaky terpaksa ditutup karena merugi.

Begitu lulus kuliah tahun 2009, Zaky mencoba peruntungannya kembali di bidang usaha. Zaky fokus melayani berbagai proyek pembuatan website yang datang padanya, terutama pesanan dari alumni ITB.

Pada masa itulah, muncul gagasan mendirikan situs Bukalapak.com.

Zaky mengerjakan web Bukalapak bersama teman SMA-nya selama berbulan-bulan. Setelah berhasil di-launching tahun 2010, respon yang didapat Zaky sangatlah mengecewakan.

Website-nya sepi pengunjung dan tidak banyak orang yang tertarik memasang produknya ke Bukalapak. Bahkan, Zaky menerima banyak penolakan ketika menawarkan Bukalapak kepada para pengusaha ritel dan pedagang di mall.

Namun, Zaky tidak pernah menyerah. Dia terus mempromosikan situs marketplace buatannya di berbagai media sosial. Secara perlahan, para pelapak mulai berdatangan dan membesarkan Bukalapak seperti yang kita lihat sekarang.

Baca Juga: Tips Sukses Berbisnis dari 10 Pebisnis Top Dunia

2. Sumbodo Malik, founder Kampung Blogger

Wong ndeso yang sukses menjalankan bisnis online selanjutnya adalah Sumbodo Malik, pendiri komunitas kampung blogger di Desa Menowo, Magelang, Jawa Tengah.

Di kampung tersebut, sebagian besar penduduknya bekerja sebagai blogger profesional dan memiliki penghasilan lebih dari 1000 dollar per bulan.

Banyak sekali ya?

Tak heran, banyak blogger dari daerah lain jauh-jauh datang ke Magelang untuk belajar blogging ke Kampung Blogger.

Pendirian Kampung Blogger itu bermula dari pengalaman pahit Sumbodo Malik saat terjatuh sakit.

Sumbodo adalah orang yang hobi merakit komputer sejak 2003. Setiap tahun, tabungannya selalu digunakan untuk membeli komputer. Bahkan, di tahun 2008, Sumbodo yang saat itu bekerja sambil kuliah pernah membeli komputer seharga 24 juta rupiah.

Karena hobinya itu, Sumbodo sering kekurangan uang, sehingga pola makannya pun menjadi tidak sehat. Dia sering mengonsumsi makanan instant dan membuatnya jatuh sakit.

Saat itu Sumbodo didiagnosa kekurangan gizi dan harus dirawat di rumah sakit selama berhari-hari.

Setelah keluar dari rumah sakit Sumbodo masih dalam kondisi tak mempunyai uang sama sekali. Ia pun mulai memutar otak untuk melakukan sesuatu yang dapat menghasilkan uang.

Dia mempelajari banyak ilmu blogging dari forum-forum luar negeri, sehingga memaksanya untuk belajar Bahasa Inggris.

Agar menghasilkan uang, Sumbodo mendaftarkan blognya ke Google AdSense dan menawarkan jasa review ke perusahaan-perusahaan terkenal, baik di Indonesia maupun luar negeri.

Dari situlah usaha Sumbodo menghasilkan banyak keuntungan. Bahkan, untuk sekali menulis review, ia bisa dihargai 7-10 dollar.

Meski telah sukses, Sumbodo tidak pelit pengetahuan. Dia membagikan ilmu blogging-nya pada teman-teman kerja dan pemuda-pemuda di desanya.

Perlahan, warga Desa Menowo mulai mahir blogging dan menghasilkan banyak uang dari kegiatannya tersebut.

Desa yang dulunya banyak pengangguran, kini telah berbah menjadi kampungnya blogger profesional.

Hebat sekali ya!

3. Alfian Pamungkas Sukawiguna, founder IDCloudHost

Kisah wong ndeso yang ketiga datang dari pemuda bernama Alfian Pamungkas Sukawiguna.

Pria yang berasal dari sebuah desa kecil di Sukabumi tersebut berhasil menarik banyak perhatian orang sejak didaulat sebagai duta internet sehat tahun 2013.

Alfian menghabiskan masa kecilnya di desa, lalu merantau ke Bandung saat berkuliah di Universitas Telkom, jurusan Teknik Informatika.

Sejak kuliah, Alfian mulai menjalankan usahanya dengan menjual karakter game online.

Berbeda dengan kebanyakan anak seusianya, uang hasil menjual karakter game online tersebut tidak ia gunakan untuk kesenangan pribadi, melainkan untuk modalnya membangun warnet.

Pada usia 17 tahun, Alfian telah mendirikan beberapa warnet yang ditujukan untuk warga desa di kampung halamannya.

Setelah didaulat sebagai duta internet sehat, Alfian membangun sebuah service VPS di MetroWorldHost.

Atas prestasinya tersebut, Alfian diangkat menjadi co-founder MetroWorldHost dan memiliki penghasilan yang hampir setara dengan gaji seorang lulusan S2. Padahal, usia Alfian saat itu baru menginjak 18 tahun.

Namun, Alfian tak berpuas diri denga pencapainnya tersebut.

Awal tahun 2015, Alfian memutuskan resign dari MetroWorldHost dan membangun perusahaan startupnya sendiri yang diberi nama IDCloudHost.

Perlahan, bisnis yang dibangun Alfian mulai memperlihatkan tanda-tanda kesuksesan. Jumlah pelanggannya telah mencapai ribuan orang yang tersebar di berbagai kota.

Bahkan, IDCloudHost kini telah memiliki 3 buah server di tiga negara, yaitu Indonesia, Singapura dan London.

Baca Juga: 5 Kesalahan yang Dilakukan Pengusaha Millenial

4. Hadi Nainggolan, founder Langit Digital Group

Kali ini profil pengusaha yang akan kita bahas adalah Hadi Nainggolan, pemilik sejumlah perusahaan ternama yang tersebar di berbagai kota.

Seperti 3 pemuda seebelumnya, Hadi juga termasuk orang desa yang lahir dan dibesarkan di Desa Rimo, Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh.

Sejak usia 9 tahun, ayah Hadi terkena stroke sehingga tak bisa bekerja lagi. Kondisi itu memaksa Hadi berjualan kue keliling untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Profesi dagang ia tekuni terus hingga memasuki bangku kuliah di Fakultas Pertanian, Universitas Islam Sumatera Utara, Medan.

Semasa kuliah, Hadi  membuka bisnis percetakan dengan modal yang didapatnya dari hasil berdagang selama SMP dan SMA.

Namun, di tahun 2011, Hadi menjual seluruh asetnya di Medan dan memutuskan untuk merantau ke berbagai kota. Mulai dari Surabaya, Banjarmasin, dan terakhir ke Jakarta.

Berbekal pengalaman merantau ke berbagai kota itulah secara bertahap Hadi membangun bisnisnya sendiri.

Dimulai dari membangun Daun Agro Group, sebuah kelompok usaha yang bergerak di bidang perdagangan kelapa kopra di Medan, Banjaramasin dan Surabaya.

Kemudian, Hadi mulai membangun bisnis barunya yang diberi nama Langit Digital Group, sebuah perusahaan yang berfokus di bidang teknologi digital.

Masih belum puas dengan prestasi yang diraihnya, Hadi kembali membangun gebrakan baru dengan mendirikan kelompok usaha yang ketiga, yaitu Graha Inspirasi.

5. Nofi Bayu Darmawan, founder Kampung Marketer

Hampir mirip dengan kampung blogger, penduduk Kampung Marketer di Desa Tajug, Karangmoncol, Purbalingga, ini juga mengandalkan penghasilan dari bisnis online.

Bedanya, penduduk kampung Marketer tidak hanya spesifik memanfaatkan blog.

Mereka memanfaatkan semua channel digital marketing untuk mempromosikan usahanya. Mulai dari website, toko online (ecommerce), hingga email marketing dan media sosial.

Berkat ketekunan warga desa dalam mempelajari ilmu marketing online, mereka pun sukses menjalankan bisnisnya.

Dibalik kesuksesan kampung Marketer tersebut ada sosok pemuda bernama Nofi Bayu Darmawan, salah satu putra Desa Tajug yang sebelumnya telah sukses menjalankan bisnis online di kota.

Berbekal keinginannya memajukan kampung halaman, Bayu memutuskan resign dari pekerjaannya di kota dan berfokus merintis kampung marketer di desanya.

Bayu mempunyai mimpi, bisa menggerakkan sebanyak-banyaknya warga desa untuk berjualan online yang sehat, berkelanjutan, dan terukur.

Akhirnya, usaha Bayu membuahkan hasil. Warga desa yang dibimbingnya kini telah menjalankan bisnis online secara mandiri.

Baca Juga:  9 Strategi Pemasaran dengan Anggaran Rendah untuk Bisnis Start-Up

 

Bagaimana 5 kisah wong ndeso di atas?

Sangat menarik sekali bukan? Meski tinggal di pedesaan dan penuh keterbatasan, mereka mampu membangun jaringan bisnisnya tanpa kenal batas.

Hal ini mengingatkan kita bahwa kesuksesan seseorang tidak ditentukan oleh darimana asal-usulnya, melainkan seberapa besar usahanya.

Tentunya, seperti yang dapat kita pelajari dari lima pengusaha sukses di atas, untuk membangun bisnis yang besar, kita harus melek perkembangan zaman.

Seperti Ahmad Zaky dan Alfian Pamungkas yang memanfaatkan website, serta Sumbodo Malik yang memanfaatkan blog. Atau, Hadi Nainggolan dan Nofi Bayu Darmawan yang memanfaatkan kecanggihan digital marketing.

Kini, tak perlu bingung lagi untuk membuat website profesional atau menjalankan digital marketing yang handal. Dengan semangat “Creativity Without Borders”, tim InDeo siap membantu Anda.

Lengkapi Semua Kebutuhan Digital Perusahaan Anda pada InDeo

InDeo memiliki tim profesional yang telah berpengalaman bertahun-tahun untuk mewujudkan SEMUA kebutuhan digital perusahaan Anda. Klik disini untuk melihat hasil karya kami

No Comments Yet
About Us

Intermezzo is online magazine for smart entrepreneurs and start-ups. We are committed with two ideas. First, as entrepreneurs and start-ups within Indonesia will be the bridge that will link the entrepreneurial community in our region together. Second, the start-up boom that began in Surabaya and which spread to around Indonesia will tell this exciting and unfolding story in our region. We are active across digital and social media.

%d bloggers like this: