Strategi Bisnis Airbnb Bertahan dari Pandemi Covid-19

Airbnb adalah sebuah perusahaan yang menyediakan jasa penyewaan kamar atau tempat menginap sebagai alternatif hotel. Saat ini, para pecinta travelling lebih menyukai sewa kamar dengan Airbnb dibandingkan dengan hotel. Selain harganya yang terjangkau, sudah tersedia di berbagai kota, dan fasilitas yang nyaman juga menjadi pertimbangan.

Apakah Anda pernah memakai jasa dari Airbnb? Mari kita simak strategi bisnisnya di artikel berikut.

Sejarah Airbnb

San Fransisco, akhir tahun 2007, Brian Chesky dan Joe Gebbia berusaha untuk mencari penghasilan tambahan agar dapat membayar biaya sewa apartemen. Hanya dengan modal kasur angin, mereka memutuskan untuk menjalankan bisnis sewa penginapan. 

Nathan Blecharczyk, mantan teman sekamar Chesky dan Gebbia, ikut bergabung dalam bisnis tersebut. Akhirnya mereka meluncurkan sebuah merek bernama “Air Bed and Breakfast“, awal dari istilah “Airb n b”. Diikuti dengan peluncuran situs resminya di bulan Agustus 2008.

Strartup ini akhirnya memperoleh pendanaan senilai USD 600.000 dari Sequoia Capital pada April 2009, setelah berulangkali ditolak oleh pemodal ventura lainnya. Tahun 2011, Airbnb mengklaim bahwa layanannya sudah tersedia di 89 negara, dan berhasil menjadi “unicorn” di Silicon Valley dengan keberhasilan memperoleh investasi USD 112 juta dari berbagai investor.

Permasalahan Mulai Timbul

Di tahun 2012, Airbnb dilanda masalah akibat tamu yang meninggalkan rumah dengan kondisi kacau setelah berpesta di rumah tersebut. Solusinya, kebijakan  baru senilai jutaan dolar dibuat sebagai jaminan bagi pemilik rumah” atau “Host Guarantee“. 

Di tahun 2016, diterapkan suatu kebijakan yang bertujuan untuk mencegah diskriminasi rasial dari tuan rumah, setelah adanya laporan dari pelanggan. Bulan November di tahun yang sama, perusahaan meluncurkan Aibnb Experience yang memungkinkan wisatawan fitur lain seperti mengiktui kelas, tur lokal, atau acara outing. Bahkan sang pemilik berkeinginan untuk merambah ke bidang studio media dan transportasi.

Baca Juga: Cara Mencegah Kriminalitas di Perumahan dengan Barrier Gate

Pandemi Covid-19

Hampir semua sektor industri terkena dampak dari pandemi di tahun 2020, termasuk Airbnb. Orang-orang tidak melakukan perjalanan dan bekerja di rumah (Work From Home). Terpaksa Airbnb menghentikan semua project sampingan demi bisa bertahan.

WFH
sumber gambar: freepik.com/benzoix

Namun, Airbnb melihat sebuah peluang dari kebiasaan baru yang terjadi di masyarakat. Mereka merumuskan strategi untuk mengkategorikan jenis rumah yang disewa menjadi lebih dari 50 kategori. Alih-alih menambah jumlah kamar, Airbnb mengambil langkah cerdas ini demi keberlangsungan perusahaan dalam jangka panjang.

Optimisme New Normal

Dengan berakhirnya pandemi, perekonomian mulai berangsur pulih, bahkan masyarakat sudah mulai menjadwalkan perjalanan tamasya. Meskipun tetap ada dampak dari pandemi, misalnya mantan karyawan yang kehilangan pekerjaan akibat kebijakan perusahaan dalam efisiensi.

CEO Airbnb, Brian Chesky berpendapat bahwa masyarakat mulai sadar akan pentingnya menyimpan uang sebagai tabungan serta mencari pendapatan dengan cara yang berbeda. Salah satu cara mendapatkan penghasilan tambahan bisa dengan menyewakan tempat tinggal mereka melalui aplikasi seperti Airbnb. Karena tidak seperti bangunan hotel yang sudah permanen, rumah sewa di Airbnb bisa lebih fleksibel dalam mengikuti permintaan konsumen.  

Baca Juga: Menetapkan Target Bisnis di Tahun Depan dengan SMART Goals

Demikian pembahasan strategi Airbnb dalam menghadapi permasalahan bisnis dan pandemi. Semoga menambah wawasan bahkan menginspirasi para pemilik bisnis lain di Indonesia.

Travel is a new experience that can transport you out of your everyday routine to create memories with the ones you love.”

Brian Chesky, CEO Airbnb
Andrew Santoso

Digital Marketing at InterActive.

No Comments Yet

Leave a Reply

Your email address will not be published.